Siaga Menyambut Era Education 4.0



Siaga Menyambut Era Education 4.0

Oleh Baharuddin*

Saya termasuk pengamat (bahkan sesekali menikmati) ajang pencarian bakat yang akhir-akhir ini sedang ramai dikompetisikan di televisi-televisi nasional. Mulai dari bakat menyanyi (dengan aneka genre: pop, dangdut, rock, dll), lawak (stand up comedy, lenongan, dll) sampai pada kemampuan membaca berita.

Saya coba amati aktivitas-aktivitas tersebut rupanya cukup digemari oleh hampir semua lapisan masyarakat (mulai awam hingga elite). Mungkin satu sebabnya karena acaranya cukup menghibur, walau sekedar memuaskan hasrat batin yang gersang akibat sulitnya hidup atas tekanan ekonomi. Kebutuhan semakin banyak sementara sumber penghasilan tidak berimbang.

Namun jika kita cermati dari sisi substansi, rupanya ajang pencarian bakat tersebut telah membawa masyarakat pada euforia yang berlebihan akibatnya kita dilenakan oleh tugas utama (tentunya sesuai profesi masing-masing individu) yang semestinya menjadi fokus utama untuk dilaksanakan.

Contoh kecil, misal bagi seorang Ibu Rumah Tangga (IRT) yang mempunyai tugas utama untuk melayani keperluan dan kebutuhan anggota keluarga terkadang menjadi abai akibat lebih fokus mengikuti kontestasi yang sedang berlangsung di televisi apalagi kalau yang sedang performance adalah kontestan andalanG (hehe… tambahan huruf ‘G’ adalah penciri).

Sedikit bergeser kedalam dunia para cendekia, rupanya tidak terlalu jauh dengan apa yang dialami oleh IRT, bedanya mungkin pada ‘pengalih perhatian’. Jika para IRT pengecohnya adalah kompetisi ajang pencarian bakat sementara kalau para insan cendekia salah satu pengecohnya adalah tentang ruwetnya administrasi dalam pengurusan pangkat dan jabatan fungsional (maklum sudah menjadi prasyarat utama dalam memperoleh pendapatan yang layak sebagai buruh pendidikan) padahal tugas cendekia bukan hanya memikirkan tentang pangkat dan jabatan fungsional tapi memikirkan bagaimana Indonesia bisa maju dan mampu duduk mensejajarkan diri dengan negara maju lainnya melalui aktivitas tri dharma.

Hari ini, dalam bidang pendidikan, dunia telah menawarkan “Education 4.0” yang merupakan revolusi industri yang muatannya adalah mengadaptasi dan berkolaborasi antara kemampuan mesin dan manusia sebagai jalan dalam menemukan penawar atas permasalahan pada abad kontemporer (tentunya selain menjadi tujuan komoditas).

Di negara-negara maju terutama di Benua Eropa dan Amerika “Education 4.0” telah lama dipraktekkan sebagai terobosan dalam dunia akademik. Revolusi industri 4.0 sendiri menekankan pada pola digital economy, artificial intelligence, big data, robotic, atau istilah lainnya. 4.0 ini juga dikenal dengan fenomena “disruptive innovation”.

Karakteristik 4.0 kini diupayakan untuk diadopsi dalam pembelajaran di perguruan tinggi Indonesia dengan harapan grade masyarakat perguruan tinggi bisa naik dan dapat dilirik oleh warga mancanegara. Maklum saja lulusan dari perguruan tinggi kita kelihatannya belum memberikan kontribusi yang signifikan terhadap peningkatan indeks kompetisi global.

Berdasarkan rilis dari World Economic Forum 2017-2018, global competitiveness index Indonesia masih dibawah negara-negara tetangga seperti Thailand, Malaysia, dan Singapura. Beberapa penyebabnya antara lain karena lemahnya higher education and training, science and technology readiness, dan innovation and business sophistication (sumberdaya.ristekdikti.go.id, 2018).

Atas dasar ini, sudah menjadi konsekuensi logis bagi para insan cendekia untuk bekerja keras dan cerdas agar bisa memenuhi harapan “Education 4.0” mengingat hari ini Indonesia masih berada pada tahapan “Education 1.0” (Vincent Gaspersz). Tidak terkungkung pada rutinitas administrasi pangkat dan jabatan fungsional, pantang terbuai oleh aktivitas minus makna apalagi larut dalam euforia tontotan ajang pencarian bakat.

Sebab jika itu yang terus berlanjut, Saya menjadi sanksi atas peluang Indonesia menjadi negara unggul atau minimal survive pada era “Education 4.0” sebagaimana terawangan Menristek Dikti (Mohamad Nasir), jika tidak selamanya kita akan menjadi ‘follower’ negara-negara maju.

Bahkan beberapa waktu lalu sempat membaca surat kabar nasional yang mengutip salah satu pendapat tokoh yang membocorkan informasi bahwa Indonesia termasuk salah satu negara yg tidak berpotensi menjadi negara maju, salah satu sebabnya adalah karena ketiadaan ‘branding’ yang layak untuk ditawarkan dalam dunia global sebagai bekal melawan ramainya kompetitor. Wallahu `Alam.

* Penulis adalah Mahasiswa Pascasarjana Universitas Negeri Malang

Ditulis: Di Malang, 09/02/2018; Pukul: 22.45 WIB


Komentar Pengunjung

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *