Menyoal tentang Seni di Bumi Massenrempulu



Menyoal tentang Seni di Bumi Massenrempulu

Penulis: Suherman, S.Pd.,M.Pd. (Dosen Seni, PGSD-STKIP Muhammadiyah Enrekang)

Kemajuan dan keberhasilan suatu daerah dapat dilihat dari perkembangan keseniannya. Asumsi ‘nyeleneh’ tersebut terkadang dianggap sebagai sesuatu yang tidak penting, pemborosan kalimat, atau buang-buang waktu memikirkannya, tetapi jika ditelaah lebih jauh dan mendalam ada benarnya juga sehingga perlu untuk diperhatikan dan dipetimbangkan baik-baik. Demikian karena, pada dasarnya seni merupakan media representasi yang, boleh dikata paling representatif, sehingga seni dalam hal ini dapat menjadi media representasi dari perkembangan suatu daerah tertentu terutama dari segi kebudayaannya, atau yang lebih lazim dan kolosal sering disebut “peradaban”.

Membicarakan tentang seni atau kesenian, tentunya tidak dapat terlepas dan sangat berkaitan erat dengan kebudayaan. Hal tersebut demikian karena seni atau kesenian itu sendiri merupakan salah satu unsur kebudayaan. Bahkan beberapa anggapan ekstrim menyatakan bahwa seni tidak lain adalah kebudayaan. Seni atau kesenian dalam hal ini merupakan haisl atau produk kebudayaan, yang oleh Koentjaranigrat (dalam Pengantar Ilmu Ntropologi, 1985) disebutnya sebagai artifact (artefak). Artinya, ada keterkaitan erat antara manusia atau masyarakat sebagai pelaku budaya dengan seni sebagai produk budaya itu sendiri. Hal ini kemudian dipertegas oleh T. R. Rohidi (dalam Metodologi Penelitian Seni, 2011) dengan mengatakan bahwa, seni tidak dapat sepenuhnya dipahami tanpa menempatkannya dalam keseluruhan kerangka masyarakat dan kebudayaannya. Itulah sebabnya, seni dipahami sebagai hasil cipta, rasa, dan karsa manusia sebagai makhluk berbudaya. Melaui seni, manusia atau masyarakat mengekspresikan dirinya secara estetis dalam bentuk simbol (simbol estetis).

Dalam perjalanan panjang sejarah perkembangan seni, muncul kemudian beberapa perspektif (modern) yang memberi kejelasan terkait pembagian jenis atau macam kesenian. Hal tersebut tidak lain adalah manifestasi dari pola pikir manusia atau masyarakat modern yang senang memetakkan atau memberi sekat pada realitas. Hasilnya, dalam dunia seni dikenal adanya jenis atau macam kesenian sesuai dengan unsur pokok atau media yang digunakan, yaitu: Seni Rupa dengan bentuk rupa (visual form) sebagai unsur pokoknya; Seni Musik dengan suara atau bunyi sebagai media utamanya; Seni Tari dengan geraknya, Sastra dengan pengelolaan dan permainan bahasanya, dan Drama atau Teater yang menggunakan dan menggabungkan beberapa unsur pokok seni.

Terkait jenis kesenian yang disebut di atas, beberapa anggapan mengatakan bahwa jenis kesenian yang paling tua adalah seni rupa. Yapi Tambayong misalnya, dalam bukunya 123 Ayat tentang Seni yang terbit tahun 2012, mengatakan bahwa “sejarah kebudayaan telah memberikan pengetahuan bahwa peradaban manusia secara kasatmata dan terlestari sampai ribuan tahun, adalah seni rupa yang meliputi semua bidang, seperti lukis, patung, dan arsitektur”. Anggapan semacam itu didukung oleh berbagai penemuan dari para pakar arkeologi dan antropologi, seperti penemuan benda-benda atau alat-alat yang digunakan oleh manusia atau masyarakat ‘prasejarah’. Selain itu, banyak pula ditemukan lukisan gua dan patung megalitik, yang juga diperkirakan dibuat oleh manusia atau masyarakat prasejarah yang hidup puluhanribu tahun yang lalu.

Di Indonesia sendiri, khususnya di Sulawesi-Selatan, masih banyak ditemukan karya-karya seni rupa peninggal nenek moyang di beberapa daerah (kabupaten) yang sampai saat ini masih lestari. Sebagai contoh, lukisan gua yang menunjukkan gambar telapak atau cap tangan dan hewan liar di dinding gua Leang-Leang Maros-Pangkep, yang kerap kali disebut sebagai bentuk mural generasi pertama yang diperkirakan dibuat sekitar 40 ribu tahun silam. Kemudian, ada juga karya seni rupa prasejarah lainnya, seperti kapak corong dan nekara yang ada di Selayar, patung megalitik yang disebut Tau Tau di Toraja, dan beberapa lagi di antaranya berupa ragam hias dengan motif-motif yang khas menghiasi dinding-dinding rumah dan pakaian adat suku tertentu.

Keterangan Gambar: Lukisan cap tangan dan hewan liar di Gua Leang-Leang Maros-Pangkep (Kiri); Parung Tau Tau di Toraja (Kanan)

Jika ditelusuri lebih jauh, di sini bukan hanya jenis kesenian seni rupa saja yang mengalami hal serupa, melainkan semua jenis kesenian, baik itu musik, tari, sastra, maupun teater pun masih banyak lestrari dan berkembang di berbagai daerah di Sulawesi-Selatan. Hal tersebut dapat dilihat misalnya pada beberapa kegiatan festival budaya baik yang diadakan di kota Makassar sebagai Ibu Kota Provinsi maupun di Kabupaten tertentu, yang kerap menampilkan berbagai jenis kesenian etnis. Walaupun, dalam beberapa event terkadang juga ada yang menempatkan kesenian hanya sebagai pelengkap atau semacam ‘bumbu penyedap rasa’ event yang sedang digelar.

Seiring perkembangan zaman, seni atau kesenian di daerah-daerah sekitar wilayah Sulawesi-Selatan pun banyak mengalami perkembangan baik dari segi bentuk, makna, maupun fungsinya. Saat ini telah dan banyak ditemukan karya-karya seni yang tercipta dari ‘otak-otak jail’ para pelaku seni (seniman) di Sulawesi-Selatan, yang tentunya tidak terlepas dari nilai estetik (estetika) sebagai landasan penciptaannya, atau dengan kata lain sebagai Ruh-nya kata para pemikir seni dan estetika seperti Baumgarten (1706-1757). Bahkan, saat ini pun telah memasuki wacana seni kontemporer yang saat ini marak diperbincangkan di berbagai belahan dunia.

Berangkat dari uraian di atas, kemudian di bawa ke dalam wacana seni dan kesenian khususunya di Bumi Massenrempulu, muncul beberapa pertanyaan sederhana, antara lain: Seperti apa seni dan kesenian yang hidup di dalam masyarakat Massenrempulu? Bagaimana perkembangan seni atau kesenian yang ada di Bumi Massenrempulu itu sendiri? Kemudian, Bagaimana eksistensinya sampai saat ini, karena jika melirik ke belakang, Massenrempulu sendiri juga memiliki latar belakang budaya yang kaya akan nilai-nilai adiluhung di dalamnya, termasuk nilai estetika itu sendiri? Apakah seni dan kesenian di Bumi Massenrempulu lestari dan berkembang, ataukah justru menuju ke jurang kepunahan?

Sekiranya pertanyaan-pertanyaan tersebut penting untuk difikirkan bersama oleh warga masyarakat Massenrempulu secara umum, terutama sekali para pemerhati seni, komunitas-komunitas, serta para akademisi yang notabene bergelut di dunia intelektual, dengan memunculkan wacana kesenian di dalam kehidupan sosial-budaya masyarakat. Mengingat, dalam beberapa tahun terakhir keseniana di Bumi Massenrempulu mengalami krisis wacana, atau dengan kata lain “kurang perhatian”. Ini merupakan persoalan serius, karena krisis wacana kesenian semacam itu akan mengakibatkan krisis pula pada wilayah estetika, dan itu tidak lain adalah persoalan nilai (values).

Kemudian selain mengangkat wacana kesenian seperti itu, sebagai langkah praktisnya perlu kiranya digagas dan diadakan semacam terobosan untuk memecahkan persoalan. Dalam hal ini perlu ada semacam “gerakan kutural” di bindang kesenian khususnya di Bumi Massenrempulu itu sendiri. Hal tersebut, selain dapat memperkuat wacana yang dilemparkan ke masyarakat umum, juga dapat memberi semacam bukti fisik yang konkrit, agar apa yang diwacanakan tidak terkesan abstrak dan berujung pada ke-sia-siaan belaka.

Sekiranya, dengan mengangkat wacana seni sebagai salah satu isu penting dan ungen, serta dengan adanya gerakan kultural di bidang seni dan kesenian dalam kehidupan sosial-budaya masyarakat Massenrempulu, suatu keniscayaan bahwa apa yang menjadi kekhawatiran akan krisis wacana seni di Bumi Massenrempulu yang dapat berujung pada krisis estetika (nilai) utamanya bagi para generasi penerus dapat teratasi secara perlahan. Di samping itu, dengan adanya alternatif-alternatif seperti dilukiskan di atas, suatu keniscayaan juga bahwa seni atau kesenian di Bumi Massenrempulu dapat ikut andil dan memberi warna dalam pergulatan seni dan kesenian seperti di daerah-daerah maju dan berkembang lainnya. Selanjutnya, mari berfikir bersama, Salam estetis.


Komentar Pengunjung

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *