Menjadi Narasumber Kuliah Tamu, Ini Pesan Dr. Irfan Syauqi Beik



Menjadi Narasumber Kuliah Tamu, Ini Pesan Dr. Irfan Syauqi Beik

Ummaspul.ac.id, Enrekang – Memasuki pertengah semester genap tahun akademik 2018/2019, STKIP Muhammadiyah Enrekang kembali menggelar Kuliah Tamu di Aula Kampus II STKIP Muhammadiyah Enrekang, Rabu, 01 Mei 2019.

Tampil sebagai narasumber adalah salah seorang dosen dari Institut Pertanian Bogor (IPB), Dr. Irfan Syauqi Beik, S.P.,M.Si. yang merupakan ekonom dari Fakultas Ekonomi dan Manajemen IPB. Adapun sebagai moderator adalah Dr. Ilham Kadir, M.A salah satu Pimpinan Baznas Kab. Enrekang.

Dihadapan pimpinan, dosen dan ratusan mahasiswa STKIP Muhammadiyah Enrekang, Irfan mempresentasikan makalahnya yang berjudul “Membedah Paradigma Kuantitatif dan Aplikasinya dalam Penelitian Pendidikan”.

Terkait dengan tema, Yunus Busa, Ketua STKIP Muhammadiyah Enrekang mengatakan sengaja mengangkat tema tersebut mengingat ilmu tentang penelitian harus senantiasa memperbaharui oleh setiap dosen, apalagi saat ini banyak mahasiswa yang sedang dalam proses penyusunan tugas akhir atau skripsi.

“Kita sebagai insan yang berkecimpung dalam dunia pendidikan tinggi seharusnya bahkan sudah menjadi kewajiban untuk senantiasa mengasa akan kompetensi penelitian. Kita harus senantiasa membekali diri tentang kompetensi penelitian” ungkap Yunus dihadapan puluhan dosen dan ratusan mahasiswa.

Selain itu, lanjut Yunus, momentum ini bisa menjadi kesempatan yang baik bagi seluruh mahasiswa untuk membekali dirinya sebelum terjun ke lapangan melakukan penelitian. Mahasiswa harus mengakrabi dirinya dengan ilmu penelitian.

Sementara itu, dalam paparannya Irfan menitikberatkan tentang tujuan penelitian. Menurutnya arus perkembangan ilmu melalui riset-riset tidak boleh lagi dilakukan secara parsial atau monoton hanya dengan tujuan formalitas belaka.

“Jangan sampai produk hasil penelitian kita hanya bertujuan formalitas yaitu untuk memenuhi persyaratan akademik, kita mengharapkan hasil penelitian yang dilahirkan juga memiliki misi dakwah” tegasnya.

Irfan mencontohkan, penelitian tentang rumpun IPS, seperti mata pelajar ekomoni misalnya, ketika bicara tentang tujuan konsumsi tidak hanya untuk memaksimalkan kepuasan lahir dan batin secara bebas dan berlebihan tetapi harus dimaknai bahwa tujuan konsumsi adalah memenuhi kebutuhan secukupnya saja. Karena kepemilikan harta kita, sebagiannya adalah hak orang lain. Sehingga sejatinya kita hanyalah distributor atas titipan rezeki yang diberikan oleh Allah SWT.

Direktur Pendistribusian dan Pendayagunaan Baznas Republik Indonesia ini mengharapkan kiranya institusi STKIP Muhammadiyah Enrekang bisa menjadi garda terdepan dalam melakukan proses integrasi dan islamisasi dalam ilmu pendidikan.

Ada lima kriteria dalam proses integrasi dan islamisasi ilmu pendidikan sebagaimana disampaikan oleh Prof. M Aslam Haneef, yaitu: No integratioan atau pendekatan murni konvensional, minor integratioan dengan nilai memasukkan nilai keislaman sekitar  1-20 persen, moderate integratioan dengan Islamic input sekitar 21-40 persen. Selanjutnya comparative-based-integration dengan Islamic input mencapai 41-70 persen. Dan terakhir complete islamic education yakni Islamic input di atas 70 persen, tutup Doktor alumnus International Islamic University Malaysia, tahun 2010 lalu. (ryd)*


Komentar Pengunjung

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *