“Kampus Ungu” dan Musik Bambu



“Kampus Ungu” dan Musik Bambu

Oleh Baharuddin*

Tradisional adalah satu term kata yang selalu dikonotasikan dengan ketertinggalan, keterbelakangan bahkan termarjinalkan sehingga tidak jarang menuai stigma di masyarakat. Ketika istilah itu dicoba untuk dipopulerkan, respon di masyarakat pun kurang menggembirakan.

Padahal jika kita telaah lebih dalam, sifat ketradisionalan mempunyai makna yang tinggi bahkan disakralkan. Tengoklah misalkan apa yang terjadi di belahan bumi bagian Timur Indonesia, dimana ritual-ritual yang sifatnya tradisional begitu tinggi dijunjung masyarakat. Atau yang paling dekat, di Enrekang bagian timur aktivitas-aktivitas tradisional masyarakat begitu disakralkan.

Jika ditilik lebih jauh akan esensi aktivitas yang bernuansakan tradisional, sesungguhnya mengandung makna yang positif sebab menyangkut akar nilai-nilai kearifan lokal yang sejatinya merupakan warisan kebudayaan yang sepatutnya dirawat serta dilestarikan sebagai sebuah identitas individu, kelompok, masyarakat bahkan suatu negara.

Sebuah contoh, di Jepang ada istilah shusin yang diperkenalkan pada era Shogun Takugawa dan Restorasi Meiji, yang zaman modern ini lebih dikenal dengan sebutan doutoku. Shusin adalah ajaran tradisional masyarakat Jepang yang bertujuan menanamkan self dicipline yang berfungsi menjadi tameng terhadap westernisasi pasca berakhirnya politik isolasi di Jepang.

Begitu esensialnya peranan shusin dalam pembentukan karakter bushido masyarakat Jepang, sehingga menjadikan pendidikan moral ala shusin sebagai suatu  momok bagi Amerika. Pendidikan moral yang sejak dulu mengajarkan nilai-nilai kearifan lokal serta semangat bushido (moral samurai) ini telah mendarah daging pada setiap jati diri masyarakat Jepang. Nilai-nilai shusin pun terus diwarisi dari generasi ke generasi dan menjadi identitas masyarakat Jepang walhasil atas semangat ini Jepang berhasil menjadi salah satu negara maju yang disegani di dunia.

Tidak hanya Jepang yang menjadikan budaya tradisional menjadi kekuatannya tetapi negara-negara disekitarnya pun demikian sebagaimana Korea Selatan. Korea Selatan adalah salah satu pemain baru yang sukses memasok produk-produk budayanya di pasal global. Gelombang kebudayaan modern Korea atau yang sering disebut hallyu sejak tahun 1990-an telah menyapu banyak negara di Asia dan kawasan lainnya.

Di Indonesia sendiri, gelombang hallyu mulai dirasakan sejak tahun 2000-an ketika film-film Korea banyak di putar di televisi nasional dan mendapat sambutan hangat dari para pemirsa. Fenomena hallyu atau yang familiar disebut Korean Wave ini terus berkembang dengan pesat. Namun, yang menjadi sorotan utama dengan adanya ekspansi Korean Wave di Indonesia adalah meningkatnya pengetahuan masyarakat Indonesia terhadap identitas lokal dari negara Korea Selatan.

Merebaknya ekspansi budaya (hallyu) bukan sekedar dikenalnya budaya tersebut, melainkan juga sudah masuk dalam pranata pendidikan yang akan berdampak pada mengglobalnya peradaban suatu negara. Dengan kata lain, membudayanya karakter/identitas lokal suatu negara untuk dipelajari secara internasional.

Kelokalan dapat menjadi amunisi yang sangat hebat dalam melakukan ekspansi budaya suatu negara. Kelokalan yang dimiliki oleh suatu negara dengan segala aspek penguatnya (seperti nilai-nilai historis, bahasa, tarian, dan lainnya) memberikan keunikan tersendiri sehingga dapat menempatkan diri pada internasionalisasi budaya yang terus bersaing.

Melalui Korean Wave, negara ini telah berhasil mensejajarkan diri dalam kancah dunia melalui keseriusan mereka dalam menyebarkan kebudayaan mereka (Sumarno, 2011). Siasat yang dilakukan Korea Selatan dalam konteks penyebaran kebudayaannya adalah dengan Hallyu Wave. Wujud hallyu merupakan aksi mengglobalkan kebudayaan lokal Korea Selatan ke arah internasional atau yang biasa disebut glokalitas.

Lalu apa hubungannya dengan Kampus Ungu. Sebelumnya, perlu dijelaskan bahwa Kampus Ungu adalah sebutan untuk STKIP Muhammadiyah Enrekang pasca perubahan statuta pada akhir tahun 2016 lalu. Kampus Ungu sendiri terinspirasi dari identitas kedaerahan Kabupaten Enrekang yang menjadikan warna ungu sebagai ciri khas sehingga penamaan Kampus Ungu mengisyaratkan akan eksistensi sebuah perguruan tinggi yang kedudukan di Kabupaten Enrekang.

Beberapa hari lalu, Kampus Ungu menghadiri perhelatan akbar yang dipusatkan di Ibukota Provinsi Sulawesi Selatan (Kota Makassar) dalam ajang Sulawesi Education & Techno EXPO 2018 yang merupakan agenda tahunan Kopertis IX Wilayah Sulawesi dengan melibatkan seluruh Perguruan Tinggi Swasta untuk wilayah Sulawesi yang berjumlah lebih seratus bahkan turut terlibat juga beberapa Perguruan Tinggi Negeri dari Pulau Jawa, seperti Jogjakarta dan Bandung.

Perhelatan yang berlangsung pada tanggal 06-08 Februari 2018 di Celebes Convention Center Makassar tersebut mengantarkan STKIP Muhammadiyah Enrekang pada performance perdananya terlibat dalam kegiatan Expo Kopertis Wilayah IX Sulawesi dengan menampilkan salah satu kekhasan dari Bumi Massenrempulu (sebutan untuk Kabupaten Enrekang, red) yakni “Musik Bambu” yang langsung di-performance-kan dalam kegiatan opening ceremony oleh tiga puluhan lebih mahasiswa STKIP Muhammadiyah Enrekang.

Apa yang diperagakan oleh mahasiswa STKIP Muhammadiyah Enrekang dengan membawa Musik Bambu pada kontestasi tingkat nasional merupakan satu terobosan dan langkah maju dalam menghidupkan nilai-nilai kearifan lokal dalam konteks masyarakat akademik. Mengingat selama ini Musik Bambu hanya dimainkan pada acara-acara tertentu seperti penyambutan tamu di daerah sehingga tidak banyak yang menikmati dan mengenalnya sehingga wajar jika hawa redup pun menerpa eksistensinya, apatahlagi para pemain musik tradisional ini adalah rata-rata orang tua.

Padahal jika dieksplorasi lebih dalam, Musik Bambu mempunyai nilai jual yang tinggi bahkan bisa menjadi keunggulan institusi dan daerah apabila dibranding secara baik dan secara serius melalui pola pembinaan yang berkelanjutan, tentunya disamping untuk tujuan konservasi budaya lokal sebagai aset daerah yang tak ternilai harganya.

Kehadiran Musik Bambu ditangan para mahasiswa adalah hal yang unik sebab di era milenial seperti sekarang tidak banyak generasi yang mau menekuni musik tradisional seperti ini. Dengan melakukan konservasi terhadap budaya daerah sejatinya kita telah menjaga dan mempertahankan eksistensi akan nilai-nilai kearifan lokal yang merupakan warisan leluhur dan peradaban.

Musik Bambu yang diserap masuk ke perguruan tinggi kiranya membawa aura dan semangat baru betapa Musik Bambu bisa menjadi kekuatan dan keunggulan untuk bisa ditawarkan kepada masyarakat luas bahkan dapat menjadi cikal bakal kekuatan glokalitas sebagaimana shusin ala Jepang dan hallyu wave ala Korea Selatan yang telah berhasil mengglobal padahal muaranya adalah sebuah nilai-nilai tradisional. Wallahu `Alam.

* Penulis adalah Dosen STKIP Muhammadiyah Enrekang sekaligus Mahasiswa Pascasarjana Universitas Negeri Malang.

Ditulis: Di Malang, 10/02/2018; Pukul: 22.45 WIB.


Komentar Pengunjung

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *